Memo…

•29/11/2009 • Leave a Comment

Hi kawan2 bloggers dan “koelitinta” followers…

Blog Koelitinta ini akan saya update lagi di pertengahan bulan Desember 2009.

Gak terasa..

3 bulan absen nulis blog.. begitu banyak proyek sharing yg tertinggal…

Semoga tanpa halangan yg berarti di pertengahan bulan depan.. blog ini saya ramaikan kembali.

 

trims!!!

 

 

Waisak: Sebuah Awal Menuju Pencerahan

•20/07/2009 • 7 Comments

Kelenteng May'09_Waisak_DSC_0585

Salah satu hari raya penting bagi penganut agama Buddha adalah Hari Raya Tri-Suci Waisak atau lebih sering disebut Waisak. Etimologi kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali, Vesākha atau di dalam bahasa Sansekerta disebut Vaiśākha. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari penamaan bulan Vaiśākha, bulan ke-2 dalam system Lunar Calendar bangsa India yang biasanya jatuh pada bulan Mei dalam kalender Masehi (Gregorian Calendar). Namun, terkadang Hari Raya Waisak dapat juga jatuh di sekitaran akhir bulan April atau di awal bulan Juni, perbedaan tersebut jelas dipengaruhi oleh siklus/fase bulan.
Pada fase pertama purnama sidhi (full moon) di bulan Waisak (Mei) terjadi peristiwa penting dalam perjalanan hidup Siddharta Gautama, yaitu:

  • Lahirnya Siddharta di Taman Lumbini (sekarang Nepal) di tahun 623 S.M.,
  • Pangeran Siddharta mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Buddha di Bodh-Gaya) pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M., dan
  • Buddha Gautama mangkat (mahaparinirvana) di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 S.M.

Graphic1

Karena tiga peristiwa penting yang terjadi ± 2500 tahun silam yaitu lahir, pencerahan, hingga mangkatnya sang Buddha maka hari raya ini dikenal pula dengan nama Tri-Suci Waisak, dan sanpai saat ini masih dirayakan oleh seluruh umat Buddha di berbagai belahan dunia, terutama di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia. Keputusan merayakan Tri-Suci ini dinyatakan dalam persidangan pertama World Fellowship of Buddhists – WFB di Sri Lanka pada tahun 1950. Perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia mengikuti keputusan dari WFB. Secara tradisi perayaan ini dipusatkan dengan skala nasional di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Begitu juga umat Buddha beserta bikkhu/ni dari luar Indonesia banyak berdatangan untuk berziarah di Borobudur.
Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok adalah sebagai berikut:

  1. Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
  2. Ritual “Pindatapa”, suatu ritual pemberian bahan makanan kepada para bikkhu oleh masyarakat/umat untuk mengingatkan bahwa para bikkhu mengabdikan hidupnya hanya untuk Buddha tanpa melakukan mata pencaharian.
  3. Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama sidhi. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.

Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula ritual pradaksina yaitu proses ritual mengelilingi Candi Borobudur, pagelaran pawai, serta pentas kesenian.
Tanpa mengunjungi Candi Borobudur pun, umat Buddha lainnya dapat merayakan Waisak dan melakukan ritual puja-bhakti, pradaksina, dll. dengan pergi sembahyang ke vihara/kuil di daerahnya masing-masing.

Seperti pada Hari Raya Waisak yang jatuh pada tanggal 8 Mei 2009 saya coba mengunjungi Vihara Satya Budhi (Bandung) untuk merekam prosesi acara perayaan Waisak yang berlangsung dari pagi hingga sore hari. Cukup terlambat ketika saya sampai di vihara itu, pukul 7.15 areal parkir sudah sangat sesak dipenuhi kendaraan umat yang berziarah di hari yang agung itu. Pagi yang dingin dan kelabu, terlihat cuaca Bandung di saat itu kurang bersahabat, sangat kontras dengan perayaan yang terlihat begitu meriah. Asap dupa sangat jarang terlihat jelas keluar mengepul dari atas atap Vihara ini yang berhiaskan ornament naga.

Combo 1 Puja

Lebih dari 150 umat terlihat begitu khusyuk seakan tidak memperdulikan dinginnya pagi, mereka berjalan dalam antrian di atas karpet merah yang terbentang di pelataran kompleks vihara dengan panjang 50m lebih, untuk menjalani proses puja-bhakti para umat melangkah perlahan dengan merapatkan kedua telapak tangan dengan jari-jari menghadap keatas dan diangkat ke atas sampai ke dahi atau ulu hati (anjalikamma) kemudian membungkuk, berlutut dan bersujud  dengan menyentuhkan kepala di lantai (namakara) semua itu seiring ritme yang sesuai dengan lantunan bait-bait sutra dalam bahasa Pali, “Buddham Saranam Gacchami, Dhammam Saranam Gacchami, Sangham Saranam Gacchami.” Sutra yang ditujukan bagi Triratna yaitu pokok ajaran dari Sang Buddha dimana umat Buddha menyatakan perlindungan terhadap Buddha, Dharma & Sangha.
Umat Buddhis yang melaksanakan ritual puja-bhakti bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang “Buddha Sakyamuni”, meniru perilaku agung-Nya dan melaksanakan ajaran-Nya serta mengakui secara langsung kenyataan bahwa Sang Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna, sehingga akan membantu mereka untuk melawan perasaan egois dalam diri dan mereka akan lebih siap ketika mendengarkan Dharma.
Puja-bhakti bukan-lah akhir dari pencapaian proses dalam hal-ihwal meniru perilaku agung Buddha, namun masih banyak cara yang dapat dimanifestasikan dengan mengamalkan ajaran utama tentang “Delapan Ruas Jalan Kemuliaan” (Noble Eightfold Path) dan “Empat Kesunyataan Mulia” (Four Noble Truth). Seperti yang telah disabdakan oleh Sang Buddha,


“Ia yang telah berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, dengan bijaksana dapat melihat Empat Kesunyataan Mulia, yaitu: dukkha, sebab adri dukkha, akhir dari dukkha, serta Delapan Ruas Jalan Kemuliaan yang menuju pada akhir dukkha. Sesungguhnya itulah perlindungan yang utama. Dengan pergi mencari perlindungan seperti itu, orang akan bebas dari segala penderitaan.”
(Dhammapada, 190-192)


Combo 2 Puja

Hal tersebut berarti dimanifestasikan dalam mentaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukkan. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai perlambang cinta-kasih dan penghargaan terhadap alam, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatang kelak kita tidak mengulangi perbuatan buruk yang dapat merugikan baik bagi diri sendiri atau orang lain.

Com 3 Lilin

Nyala lilin atau lampu minyak bagi umat Buddha melambangkan penerangan Dharma atau kebijaksanaan untuk menggantikan kegelapan yang telah lama berdiam di dalam bathin kita. Sehingga dengan menyalakan lilin di hadapan Sang Tri Ratna dalam sebuah prosesi ritual keagamaan, mengingatkan kita akan tujuan Pencerahan yang tercapai pada saat kebijaksanaan menghilangkan kegelapan dari ketidak-pedulian kita.

“Matahari bersinar di waktu siang. Bulan bercahaya di waktu malam. Kesatria gemerlapan dengan seragam perangnya. Brahmana bersinar terang dalam semadhi. Tetapi, sang Buddha (ia yang telah mencapai Pencerahan Sempurna) bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.
(Dhammapada, 387)

Sedangkan dupa yang harumnya semerbak ke seluruh penjuru vihara ini dinyalakan untuk mengingatkan kita bahwa sinar Dharma hanya dapat dicapai dengan tindakan-tindakan yang harum dan penuh kebajikan dengan menjalankan sila-sila yang tertuang dalam ajaran Buddha. Menyalakan dupa juga menandakan penghormatan kita terhadap Sang Tri Ratna.

Combo 4

“Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin. Begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; harumnya nama orang bajik dapat menyebar ke segala penjuru.
(Dhammapada, 54)

Waisak sebagai sebuah Hari Raya Agama Buddha dapat memberikan contoh yang positif kepada setiap orang walaupun tidak memeluk agama Buddha. Contoh positif yang dapat diteladani adalah pengembangan cinta-kasih kepada setiap makhluk hidup. Wujudnya bisa berupa berdonasi membantu mereka yang membutuhkan, mendonorkan darah, menjaga lingkungan sekitar dengan hidup sederhana atau dengan memelihara alam.
Akhirnya satu konklusi dari hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa ada rasa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada, “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.”

Terima kasih buat kawan baik saya, Richard NF yang menemani hunting dan meliput acara ini.

Richard

PS:

Colour Photos  with Nikon DSLR

BW Photos with Nikon SLR + Ilford XP-2 400

Enjoy Reading!!

Dji Sam Soe Gold: A Review

•08/07/2009 • 12 Comments

Front Page

Dji Sam Soe Gold_DSC_0405

Di bulan Juli ini produsen rokok tertua di Indonesia, PT. HM Sampoerna merilis varian baru untuk produk berjenis sigaret kretek merk Dji Sam Soe (unfiltered), yaitu Dji Sam Soe GOLD. Sebagai seorang maniak produk ber-angka 234, melihat billboard iklan dan banner yang terpampang di jalan protocol Kota Bandung sejak satu minggu yang lalu membuat saya cukup penasaran untuk mencoba-nya, bahkan pada awalnya saya menerka Dji Sam Soe Gold ini adalah produk rokok jenis filter kretek seperti Dji Sam Soe Filter/Magnum.

Siang tadi selepas “nyontreng” di TPS, untuk mengisi waktu luang saya memutuskan untuk jalan-jalan ke kawasan Bandung Tua di Jln. Braga, tidak lupa kamera pun dibawa barangkali ada momen a la “nye-treet” (street photography) yang patut untuk direkam.

Baru saja sampai di sana persedian rokok sudah menipis, akhirnya saya harus menebus sebungkus rokok demi kelangsungan hidup di Circle K dan sekalian menanyakan keberadaan Dji Sam Soe Gold. Walaupun stok rokok baru itu belum dijual di Circle K, tetapi menurut salah satu staff-nya, Mini Market Point di seberang Caesar Palace (Gedung Landmark) sudah menjual produk tersebut. Yup! Finally…

Combo 1

Dengan harga Rp.8900/bungkus berisi 12 batang kretek, harga yang terbilang standar untuk produk keluaran HM Sampoerna. Saya mengambil dua bungkus, 1 untuk langsung dihisap dan satu lagi untuk menjadi koleksi, telah menjadi kegemaran saya mengkoleksi  rokok yang baru atau dengan pack “limited edition” sejak 5 tahun yang lalu.

Dengan warna packing kertas glossy yang berwarna emas kecoklatan ala Dji Sam Soe varian Super Premium, sanggup menampilkan citra elegan dan gagah. Mengadopsi system perekat seal plastik kecil di sudut kiri atas sebagai penutup lubang untuk membuka dan mengeluarkan batang rokok dari bungkus. namun seal ini tidak bertahan lama sampai tulisan ini dibuat, rekatan seal sudah tidak bagus. Batang rokoknya masih dalam ukuran standar kretek dibalut kertas putih dengan logo Dji Sam Soe Gold mengingatkan saya pada rokok Camel Unfiltered (Camel “soft pack”).

Bagaimana dengan “taste” kesempurnaan dari tag-line iklan nya yang mengkampanyekan halus dan mantap? Dji Sam Soe Gold ini terasa cukup halus serta ringan ketika dihisap, rasa dan aroma khas 234 tetap dipertahankan walaupun tidak “sekuat dan se-sempurna” saudara tua nya. Paduan cengkeh dan tembakau tidak senikmat Dji Sam Soe Kretek biasa, terlalu lembut dan kurang berani dan itu lah yang membuat saya kurang cocok dengan rokok ini. Seharusnya varian ini cocok bagi perokok yang ingin mencoba “rokok/kretek kelas berat” mengingat tanpa filter dan racun yang terkandung per batang nya cukup besar; Tar 32mg dan Nikotin 2.0mg, namun dengan hisapan ringan serta rasa yang lembut, cobalah produk ini.

Begitulah review singkat dari rokok Dji Sam Soe Gold, jangan anggap artikel ini sebagai iklan yang mempromosikan/menjatuhkan produk tertentu atau sebuah hasutan untuk mencoba merokok, dll. Tapi artikel ini sebatas sharing atas opini dan pengalaman pribadi.

Terima Kasih!

Combo 2

Dji Sam Soe Gold_DSC_0410

Peringatan

Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong 協天宫)

•06/07/2009 • 5 Comments

Front Gate

Hampir selama 3 bulan lebih saya larut dalam beberapa mini-project fotografi yang salah satunya itu memuat artikel bernafaskan “photo-journalistic” tentang sebuah Vihara/Kelenteng tertua di Kota Bandung, Vihara Satya Budhi (Xie Tian Gong). Dalam kurun waktu tersebut, saya sempatkan dua atau tiga kali dalam seminggu mungunjungi Vihara Satya Budhi yang berlokasi di Jln. Kelenteng, tidak begitu jauh dari pusat kota Bandung. Entah itu hanya untuk memotret atmosphere dari vihara di kala pagi, siang bahkan di sore hari, proses ritual sembahyang pun tentunya tidak luput dari bidikan lensa saya, sampai ke prosesi perayaan Hari Raya Waisak, Puja Bhakti di Vihara ini sempat terekam dalam liputan saya ini.


View Larger Map

Berawal dari ketertarikan dalam mempelajari khasanah peninggalan dari leluhur saya, terutama dalam konteks sejarah dan budaya, maka Vihara/Kelenteng adalah garis start yang tepat untuk mempelajari kedua hal tersebut, terlebih jika kita menginjak ranah yang mengandung nilai-nilai filosofis keagamaan dan kehidupan, begitu banyak hal yang membutuhkan waktu tidak sedikit untuk memperlajari-nya. Namun dalam artikel ini, saya hanya mengulas sebagian kecil saja dari apa yang telah saya amati dan pelajari, mungkin ini semua layak sebatas disebut “catatan kaki” dari perjalanan panjang Vihara Satya Budhi yang telah berusia lebih dari satu abad.

Di penghujung abad ke-19 tepatnya tahun 1896, Golongan Timur Asing etnis Tiong Hoa yang bertempat di lingkungan Pecinan (Chinees-wijk) Kota Bandung yang kala itu belum mendapatkan status gemeente dari pemerintah Kolonial Belanda, mendirikan sebuah kelenteng pertama di Bandung, Sheng Di Miao 聖帝廟,yang diprakarsai oleh Tan Djoen Liong (Luitennant der Chineeschen) dan proyek ini di pimpin oleh arsitek (Chui Tzu Tse) dan ahli sipil (Kung Chen Tse) yang keduanya sengaja didatangkan dari Cina Selatan. Pada awalnya Sheng Di Miao difungsikan sebagai tempat beribadah bersama sesuai kepercayaan tradisional yang dibawa serta dari daerah asalnya di Tiongkok. Lalu pada tahun 1917, kelenteng ini dibangun ulang dan berganti nama menjadi Kelenteng/Kuil Xie Tian Gong 協天宫 (Hiap Thian Kong) yang berarti “Kelenteng Masyarakat”.
Memasuki rezim Orde Baru, situasi dan kondisi etnis Tiong Hoa mulai dipermasalahkan, yang paling terutama adalah efek samping dari peristiwa G30S/PKI di tahun 1965, pelarangan oleh pemerintah masa itu yang cenderung sentiment Anti-China, yaitu pelarangan menggunakan segala nama-nama/tulisan yang berbau Etnis Cina serta budaya dan kesenian asli serta kepercayaan tradisional China tidak boleh ditampilkan, memaksa pergantian nama asli Xie Tian Gong menjadi Satya Budhi. Lantas perbedaan antara kelenteng dan vihara kemudian menjadi cukup rancu karena fenomena tersebut. Imbas lain dalam peristiwa ini adalah kelenteng yang telah berdiri pada masa itu terancam ditutup secara paksa oleh pemerintah. Banyak kelenteng yang kemudian mengadopsi nama Sansekerta atau Pali, lalu mengubah nama sebagai vihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan. Dari sinilah kemudian umat awam sulit membedakan yang mana “kelenteng” dengan vihara.

Sheng Di Miao Label

Sie Tian Gong Label

Mengingat para pendatang Golongan Timur Asing yang ber-etnis Tiong Hoa di Pulau Jawa, mayoritas berasal dari Provinsi Fujian (福建) dengan dialek Hokkian (Min Nan-閩南語), Daerah Fuzhou/Hokchia (Min Dong-福州話) selain dialek-dialek tersebut ada juga yang lainnya; tetapi tidak terlalu signifikan jumlahnya, seperti pendatang dari Kota Chaozhou (潮州) yang membawa dialek Teochew (潮州話) dan dari Provinsi Guangdong (廣東) dengan dialek Hakka (客家話), oleh karena situasi kehidupan dalam lingkungan etnis yang sama dan terpusat (Pecinan), maka dengan sendirinya akan terbentuk sebuah lingkungan yang diliputi budaya walaupun berbeda bahasa namun sarat dengan tradisi dan kepercayaan asli yang terbawa dari tempat asal. Untuk menampung kegiatan kelompok masyarakat tersebut, kelenteng juga dapat difungsikan sebagai balai rakyat atau community center.

Kelenteng'09_DSC_0014

Hening… Damai… Kudus…
Itulah impresi pertama yang saya rasakan ketika memasuki kompleks Kelenteng Xie Tian Gong / Vihara Satya Budhi di pagi hari. Wangi asap dari hio (baca: dupa) yang masih menyala, memenuhi altar utama yaitu altar milik Thian Gong (Toa Pe Kong). Semburat cahaya menyelinap dari celah-celah atap yang terbuka, memperkuat suasana ibadat yang begitu sakral dan kudus. Cahaya api jingga dari segelas cangkir minyak di hadapan patung Thian Gong, terlihat dari kejauhan berjajaran rapi memberikan secercah sinar di dalam kegelapan, yang seakan-akan menjadi sebuah pelita penuntun jiwa dalam kehidupan. Elemen interior vihara yang serba seimbang/balanced, kaya akan detail dan warna serta bernilai estetis oriental, mengingatkan saya pada filosofi Tao, Yin-Yang, tentang penting-nya keseimbangan dalam kehidupan. Entah mengapa bagian ambang bawah dari gerbang pintu kayu dibuat cukup tinggi, sehingga pada saat kita hendak masuk ke altar, kita melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu yang diikuti dengan membungkuk sebagai tanda penghormatan. Salah satu ragam hias nya mengundang decak kagum adalah pedestal kolom yang terbuat dari batu dan terdapat ukiran Naga setinggi dua meter lebih. Lalu terdapat simbol floral yang berwarna-warni serta terdapat bunga teratai atau padma yang menyimbolkan mandala, ruang dimana manusia memperoleh kesempurnaan.

Jika kita membandingkan besaran Kelenteng di Kota Bandung, Xie Tian Gong tergolong kelenteng yang lebih besar dan luas dibandingkan yang lainnya. Pada bagian tengahnya terdapat sebuah altar yang lebih mirip aula tempat peribadatan dengan luas kurang lebih 30×20 meter. Di sisi kanan dan kiri aula tersebut terdapat juga altar penyembahan dewa-dewi lainnya, di tambah dengan tempat pembakaran kertas uang
di masing-masing sisi yang menyerupai Pagoda, keagungan Xie Tian Gong lebih jelas terihat.

Combo 1 Altar + leftandright

Combo 5

Walaupun warna yang mendominasi adalah warna terang seperti emas, kuning, terlebih warna merah yang menjadi “raja warna”, namun suasana yang diciptakan tidak semeriah warna-warni itu, melainkan saya merasakan ambiance/suasana yang sungguh hening dan bahkan terkesan damai yang menyejukkan dan menentramkan hati. Setelah mencoba bertanya pada pengurus setempat, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Ternyata komposisi serta keharmonisan elemen warna dan interior adalah dibuat setelah dari hasil penghitungan dengan menggunakan falsafah Feng Shui.

Kepercayaan tradisional Tionghoa merupakan perpaduan dari beberapa ajaran penting yang pernah hidup di-Timur, yaitu Budhisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Ketiga ideologi tersebut tampak sangat jelas di-manifestasikan ke-dalam langgam arsitektur kelenteng/vihara. Arsitektur dan detail konstruksi bangunan merupakan rekaman dari falsafah tradisional masyarakat yang dibawa dari tempat asal mereka.

Combo 2

Ritual utama bagi masyarakat etnis Tionghoa inti utamanya ialah penghormatan dan bakti pada orang tua, anggota keluarga yang dituakan atau yang sudah tiada dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam penerapan lebih lanjut-nya adalah menjadi penghormatan pada tokoh yang berjasa pada masyarakat semasa hidup mereka, pelaku sejarah yang karakter dan tindakannya patut diteladani, guru yang dihargai, serta para nabi. Dalam perjalanan sejarah berabad abad; tokoh budaya ini bermetamorforsa menjadi folklore, mitos, legenda, bahkan sebagian dipuja dan dianggap dewa-dewi yang dipercaya memiliki kemampuan atau berkat tertentu bagi umatnya.

Sinister

Combo 3

Dapat kita lihat pada manifestasi ini, kedua Jendral Perang kenamaan dari Negara Shu Han (蜀漢) dalam Epik Kisah Tiga Negara/Romance of Three Kingdoms (三國演義), Guan Yu (關羽) dan Zhang Fei (張飛) terlukis dibalik pintu berwarna merah, yang dijadikan gerbang utama kelenteng ini. Mereka diharapkan senantiasa menjaga serta melindungi setiap insan dari marabahaya dalam kehidupan. Terlebih lagi bagi Guan Yu atau dikenal dengan nama Guang Gong/Kwan Kong, beliau disembah sebagai salah satu bodhisattva dalam ajaran Budhisme, Dewa Perang/Dewa Penjaga dalam ajaran Taoisme, karena itu di negara lain banyak didirikan tempat pemujaan/altar yang dikhususkan bagi Guan Yu.

Combo 4 Guan Yu

Untuk mengingat jasa-jasa para umat vihara sekaligus donator dalam proses pembangunan, pembangunan ulang serta renovasi dipahatkan beberapa prasasti yang ber-isikan nama-nama para donator sesuai dengan tahun proyek pembangunan/renovasi dilangsungkan. Pada pembangunan pertama di tahun 1896, terdapat donator selain dari Kota Bandung yaitu, Batavia, Cirebon, Cianjur, Semarang, Tanjung Pura, Suka Pura (Ciamis), Manonjaya (Tasikmalaya). Hal tersebut membuktikan bahwa diaspora dari Etnis Tiong Hoa pada masa itu tidak hanya terbatas pada kota-kota besar saja, sampai ke pelosok daerah pun terdapat segelintir etnis Tiong Hoa.

Prasasti

Lukisan mural yang terdapat di dalam kompleks Vihara Satya Budhi, umumnya yang dilukiskan juga sering bermakna simbolik, membawakan pesan tersirat yang harus ditafsirkan oleh mereka yang melihat. Sebagai pengantar kadang-kadang disertakan suatu kutipan dari bagian tulisan sastra kuno. Untuk dapat mengerti pesan-pesan tersirat ini secara tepat; mutlak perlu mengetahui secara lengkap karya yang dikutip, serta sejarahnya. Penggunaan simbol dalam budaya Tionghoa banyak juga digunakan huruf dengan bunyi yang sama (homophone). Kata yang berbunyi sama ini lalu dituangkan dalam bentuk huruf kaligrafi, ornamen, dan lukisan.

福禄夀三星拱照。
Fu lu shou san xing gong zha.
Keberuntungan, harta, usia, 3 bintang menyinari.

天地人一氣同春
Tian di ren yi qi tong chun.。
Langit, bumi, manusia bersama di musim semi.

Mural

Mural yang lukisannya sekarang dapat diteliti pada bangunan klenteng Xie Tian Gong 協天宫 Bandung, membawakan pesan budaya yang serupa. Kepercayaan menurut falsafat Tao, Budhisme, dan ajaran kehidupan Confusius. Mengangkat episode-episode dalam cerita Hong Sin, Epik Kisah Tiga Negara/Romance of Three Kingdoms (三國演義), yang juga dilengkapi contoh-contoh perbuatan tokoh bersejarah yang dinilai patut untuk diteladani oleh masyarakat generasi penerus.

amvbg

Jika bagi sebagian orang, vihara/kelenteng identik dengan umat yang telah lanjut (senior citizen), maka AMVBG, Angkatan Muda Vihara Buddha Gaya hadir dan eksis untuk menyangkal pernyataan tersebut, regenerasi dari yang sudah senior terus berlangsung, mewariskan adat-istiadat dan budaya yang tak ternilai harganya. AMVBG selalu aktif dan tak kalah sibuk dengan para pengurus Vihara dalam setiap acara yang dilaksanakan oleh Vihara Satya Budhi, baik itu Imlek, Waisak, dsb.

Setiap kali berkunjung ke Vihara Satya Budhi, saya seakan-akan melakukan perjalanan spiritual dan sekaligus meretas sejarah serta melintasi keagungan yang tak lekang oleh waktu, dan yang paling penting saya sungguh menikmati memotret di tempat ini, bagi saya tak hanya sekadar membidik dan merekam apa yang saya lihat, tetapi jauh di dalam nya saya merasakan begitu kuat “aura” dimana jiwa dan hati selalu dipenuhi rasa kedamaian. Silakan sekali-kali anda coba untuk membuka hati dan jiwa anda ketika anda berkunjung dan memotret di Xie Tian Gong.

Selamat Menikmati!

  • BW : Nikon SLR + Ilford XP2 400, Ilford Pan 50
  • Colour: Nikon DSLR & Holga 120GN + Kodak Ektacolor 160